Manusia Sebagai Khalifah Kok Makannya Cilok, Cireng & Seblak?

Assalammualaikum Sobat Positif. Dr Zaidul Akbar telah mengingatkan kita semua, bahwa manusia sebagai khalifah di bumi idealnya makan makanan yang gagah, bukan, cilok, cireng ataupun seblak!

Untuk memahami maksud beliau, yuk kita cek, seperti apa komentar Sang Penggagas JSR mengenai hal ini!

Allah SWT telah menjatuhkan takdir-Nya dengan memuliakan derajat kita sebagai khalifah di bumi. Sebab itu mejaga kebugaran tubuh adalah hal penting bagi seorang khalifah.

Makanan adalah satu hal yang harus benar-benar diperhatikan. Dr Zaidul Akbar pun memperingatkan sebagai seorang khalifah idealnya jangan makan cilok, cireng & seblak!

Tapi makanlah makanan yang gagah. Seperti buah-buahan, sayuran dan produk dari lebah.

Makannya Manusia Sebagai Khalifah Adalah Agar Ibadah Terjaga

Kisah seorang Khulafaur Rasyidin yang mampu mengkhatamkan 30 juz bacaan alquran dalam satu rakaat sholat witir pastinya sudah pernah kita baca.

Ya, beliau adalah sahabat Utsman bin Affan. Kisah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Zubair  ini pernah dikutip sekilas oleh dr Zaidul Akbar dalam salah satu kajiannya. 

Tentu kita semua menjadi takjub dan bertanya-tanya;

“Bagaimana generasi angkatan pertama yang didik Rasulullah itu bisa menikmati ibadah dalam waktu yang lama tanpa gangguan kelelahan fisik?”

Mari kita ulas bersama apa yang disampaikan Sang Pakar Herbal, dr Zaidul Akbar akan hal ini.

Seorang khalifah ibadahnya lama

Makan Manusia Sebagai Khalifah Bukan Life Style, Tapi Untuk Ibadah!

Trend gaya hidup sehat memang akhir-akhir ini sedang naik daun, apalagi setelah dr Zaidul mengkampanyekan Jurus Sehat Rasulullah (JSR).

Melihat fenomena ini, dr Zaidul pun menegaskan;

“Jangan jadikan hidup sehat sebagai life style saja, tapi bagi seorang mukmin niatkanlah itu semua sebagai  bentuk ketaatan dan rasa syukur pada Allah SWT.

Sebagaimana para khalifah, makan dan istirahat beliau adalah sebagai jalan menghimpun energi.

Sehingga secara fisik para sahabat tidak saja sanggup sholat berlama-lama, jika ada panggilan jihad memanggil sewaktu-waktu pun siap melaksanakannya.”

Niatkan minum kunyit, jahe, sebagai ibadah dan bukan life style

Jadi, setelah kita memahami konsep ini, insyaAllah, dengan makan kurma ataupun yang lainnya kita mendapatkan kelebihan pahala disamping kebaikan bagi tubuh kita.

Tentunya niat berpahala tidak terbatasi hanya dengan mengkonsumsi kurma atau madu saja, tetapi juga pada makanan lain yang telah Allah ciptakan sesuai standar halal dan thayyib untuk kita.

“Misal makan buah, minum kunyit, jahe dan lainnya, jika kita niatkan demikian insyaAllah akan dapat banyak limpahan pahala”, tambah beliau.

Makannya Khalifah Bukan Karena Syahwat

Sekarang kita sudah memahami, bahwa makan yang baik-baik berbuah pahala jika diniatkan dengan benar.

Lalu bagaimana dengan sikap diantara kita yang masih bandel dalam hal makanan?

Ingat, salah satu sedekah terbaik adalah sedekah terhadap diri sendiri, yaitu dengan memberinya makan dengan makanan yang baik-baik. Bagaimana jika sebaliknya?

“Jika sudah tahu ada makanan kurang sehat tetapi tetap diembat maka itu dzolim”, kata dr Zaidul sambil tersenyum.

Kemudian beliau menyambungnya dengan melemparkan beberapa pertanyaan kepada peserta kajiannya;

“Nasi oreng sehat gak?”

Tentu para jamaah sudah tahu jawabannya. 

Beliau kembali balik bertanya;

“Jadi, yang masih makan nasi goreng itu karna ingin dapat pahala apa karna syahwat?”

Kita makan nasi goreng itu karna syahwat atau karna pingin dapat pahala?

Jamaahnya pun menyambut pertanyaan retoris itu dengan tawa.

Beliau kembali melemparkan pertanyaan yang sifatnya retoris; 

“Mie instan sehat gak, kenapa masih dimakan, jadi makan mie instan itu karna syahwat atau pahala?”

Para peserta kajian pun kembali meramaikan jawabannya dengan tawa serta saling pandang.

Dr Zaidul perlu menyampaikan pertanyaan itu meski dengan nada bercanda, karena memang hal itu penting.

Sebagaimana kesimpulan beliau, biang penyakit ada dua, yitu subhat dan syahwat.

Berpikirlah dengan Apa yang Akan Kita Makan

Tentunya sudah mahfum, jikalau makanan yang dikonsumsi sekarang akan menjadi nasib kesehatan kita pada 5 sampai 10 tahun mendatang. 

Maka tiada salahnya kita berhenti sejenak untuk berfikir sebelum bibir kita menyentuh makanan yang lezat. ‘Apakah ini sehat?’

“Pahami baik-baik ketika kita akan makan sesuatu, renungkan, apakah itu akan mendatangkan manfaat atau tidak dikemudian hari.

Renungkan baik-baik, berbuah masalah atau tidak di fase-fase kehidupan berikutnya.

Jadi, insyaAllah, kalau kita sudah memiliki budaya berpikir demikian, maka otomatis hanya yang berbuah berkah saja yang masuk ke perut.” begitu arahan Sang Penggagas JSR.

Ingat, manusia sebagai khalifah sepantasnya mengkonsumsi makanan berstandar halal dan tayyib.

Pikirkan manfaat dari yang akan kita makan

Para Khalifah Tidak Makan Sosis, Cilok, Cireng & Seblak!

Salah satu quote dari dr Zaidul yang viral;

“Sehat adalah buah dari menjaga ketaatan.” 

Ketaatan kita dalam menjaga makanan akan berpengaruh bagi masa depan.

“Coba anda cek di Alquran, jenis makanan apa saja yang Allah sediakan di syurga kelak.”

Maksud beliau, jika di syurga ada minuman jahe, ya sekarang kita perbanyak  minum jahe. 

Jika di syurga ada buah-buahan, ya kita sekarang banyak-banyak makan buah.

“InsyaAllah jika kita dapat melaksanakan petunjuk dari Allah ini, kita sedang ikut menyelamatkan gen manusia”, tutur beliau. 

“Kalo sadar, kita ini khalifah, maka makanannya harus gagah. Masa khalifah kok makannya cilok, cireng, seblak!”, gurau beliau.

bukan makanan khalifah
Seblak kurang cocok untuk manusia sebagai khalifah

Tentu yang beliau maksud, bukan niat hati merendahkan makanan ataupun profesi para pedangan cilok, cireng dan seblak.

Tetapi beliau mengarahkan untuk banyak mengkonsumsi buah dan sayur. Bahkan beliau membayangkan, suatu ketika akan lebih banyak dijumpai para pejual buah potong ketibang penjual makanan tadi.

Tapi tentunya semua butuh proses edukasi yang cukup.

Leave a Comment